How Was I Stranded in Sumatera


Saat itu pertengahan Maret 2024, saya tengah menikmati peran sebagai konsultan pertanian di sebuah perusahaan distributor pupuk & benih di Kab. Magelang. Walau hanya dapat 3/5 gaji yang ditawarkan perusahaan lama dan terpaksa keluar dari sampingan sebagai pengajar training PraKerja atas nama loyalitas & etika, saya punya mimpi panjang dalam menekuni profesi itu. Selain soal passion dan prospek, lokasi kantor pun sangat dekat dari rumah kontrakan. 

Hak manusia bermimpi, pada akhirnya apapun takdir harus dijalani. Di tempat itu, saya hanya bertahan 7 minggu. Sebuah persidangan bertabur isu simpang siur memupuskan harapan. Meski dipecat secara tidak adil, pantang saya mengemis penghidupan dari orang. Hari itu juga saya pulang. Dengan sisa-sisa kapital & dukungan ibu serta mertua, pelabuhan Dwikora jadi tujuan berikutnya. 

Dalam masa penantian keberangkatan kapal menuju tanah rantau di Borneo sana, pada 26 April saya dikontak guru sekaligus teman seperjuangan. "Ada pekerjaan sebagai koordinator proyek penghijauan Tol Lampung, kamu mau tidak?" jelas dia. Terdorong kebutuhan yang lebih besar ketimbang rasa trauma usai diperlakukan semena-mena, saya nyatakan bersedia asalkan tanpa seleksi panjang yang menyebalkan. 

27 April saya berangkat ke Solo bertemu bos vendor. Usai obrolan singkat dan nilai kompensasi disepakati, saya resmi diamanahi. Tepat akhir bulan, saya menyeberangi Selat Sunda untuk pertama kalinya. Bersama tangan kanan atasan, saya diantar ke basecamp 1 km dari Gerbang Tol Sidomulyo, Lampung Selatan. 

Bulan pertama adalah hari-hari adaptasi. Mengenali medan kerja, mitra kerja, tim kerja, cara dan masalah kerja adalah rutinitas. Tidak lama kemudian, kendali penuh operasional sudah di tangan. Selama 3 purnama fokus utama adalah membenahi dan membangun sistem pekerjaan. 

Selain akting sebagai budak korporat, di hari libur  saya mengadakan kelas pertanian. Dibantu kawan seorang petugas POPT setempat dan kesediaan kolektif para petani, saya berkesempatan menyampaikan materi kesuburan tanah, nutrisi tanaman dan prinsip guna pestisida. 

Kondisi tersebut tidak lama bertahan. Usai evaluasi dari penyandang dana CSR, ternyata vendor tempat saya bekerja diberi tanggung jawab tambahan. Kelanjutan penanaman Trembesi di Ruas Tol Terpeka dan Kapal yang membentang sepanjang 227 km dari Lampung Tengah hingga Palembang kini secara teknis dipasrahkan kepada saya. 

Juli akhir saya mulai pemetaan. Dari mulai area kerja hingga tenaga kerja beserta akomodasi dan logistik disiapkan secara seksama. Oleh karenanya, mobilitas saya menjadi sangat tinggi. Pagi hari di Lampung Selatan, menjelang Zuhur di Tulang Bawang, malamnya istirahat di Palembang. Sebegitu sering, sampai-sampai jarak 367 km serasa dari Jogja ke Magelang. 

Belum dua bulan pasca aktivitas di tempat anyar berjalan, tugas berikutnya datang. "Rahmat, kamu ke Riau, siapkan operasional pekerjaan di ruas Tol Permai," titah atasan. Sat-set, dibantu jejaring SPI seperti di lokasi sebelumnya, pekan ketiga September basecamp baru di samping gerbang tol Pekanbaru mulai beroperasi. 

Atas pertimbangan tingkat kesulitan, 3 purnama berikutnya saya habiskan waktu di Tanah Melayu. Sedangkan operasional harian di Tol Lampung - Palembang saya delegasikan ke koordinator lokal. Rekrutan baru dari Indramayu yang juga kawan di Serikat Petani. 

Lain kolam lain ikan, beda wilayah beda pula persoalan. Ketimpangan taraf pendapatan buruh harian dan cuaca antara belahan selatan Sumatera dengan bagian tengah menyebabkan pendekatan yang saya terapkan di titik sebelumnya tidak berjalan mulus. 

Gonta-ganti pekerja dan hambatan lokal yang datang tanpa jeda berujung pada keterlambatan. Setelah 2 bulan berjalan, barulah titik terang saya temukan. Sistem terbangun, logistik terjamin dan pekerja terkondisikan. 

Usai menimbang matang dan membaca peluang, di pertengahan Desember, saya sampaikan ulang apa yang pernah dibicarakan dengan atasan saat perkenalan 8 bulan silam. Pengunduran diri saat kontrak selesai. 

Di masa saya menjabat sebagai koordinator seluruh ruas tol, pekerjaan penghijauan dan perawatan tanaman memang belum berakhir. Keputusan pergi saya ambil setelah yakin bahwa tata laksana pekerjaan dari yang besar sampai remeh di seluruh ruas tol yang totalnya 500 km telah terbukti efektif menjawab tuntutan perusahaan. 

Berbarengan dengan pengumuman bahwa saya diterima sebagai kepala mandor di sebuah perkebunan di perbatasan Lampung-Palembang, saya menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada penerus berikutnya pada 26 Desember 2024. Sebelum gaji terakhir diterima, saya pastikan seluruh teknis kerja, kebutuhan logistik, alokasi tenaga kerja, kontak mitra dan dinamika di lapangan telah siap dipindahtangankan. 

Tepat 31 Desember 2024 amanah pungkas dan saya terbang pulang ke Jogja untuk selanjutnya bersama keluarga meniti karir di bawah bendera baru namun di bidang dan pulau yang sama. Pertanian dan Sumatera.

Comments