First of all, ini adalah tulisan pertama setelah 2 tahun vakum berbicara soal kesuburan tanah. A long break karena di pekerjaan sebelumnya ilmu tersebut tidak digunakan.
Meski bekerja di perkebunan pisang, jabatan sebagai Farm Mentor Nursery dan Manufaktur lebih menuntut keterampilan leadership dan manajemen ketimbang teknis pertanian.
Now as I Am Back to field job as Koordinator Program Pertanian Yayasan Bahtera Dwipa Abadi, pengetahuan dan keterampilan di bidang pengelolaan tanah kembali dibutuhkan.
Apalagi mayoritas petani yang akan saya temani sehari-hari berhadapan dengan dinamika lahan gambut di Pesisir Pantai Timur Sumatra.
Kendala budidaya tanah masam dan pasang surut yang rentan, iklim tidak menentu, akses pupuk dan pembenah tanah terbatas menuntut saya memahami bagaimana ekosistem di sini bekerja.
Dalam skala mikro kosmos, memiliki pengetahuan dasar nan benar tentang bagaimana sifat fisik, kimia dan biologi tanah gambut bekerja tidak bisa ditawar.
Dari situ kemudian, bersama petani dan tim, saya dapat menyusun strategi rekayasa kesuburan tanah yang memungkinkan usaha budidaya berjalan.
Tidak hanya soal panen lalu konsumsi dan pemasaran yang menguntungkan secara ekonomi, aspek kelestarian gambut sebagai ekosistem strategis juga harus kami perhatikan.
Jangan sampai mengejar produktivitas maksimal berujung pada kerusakan gambut permanen. If you know what I mean, it is truly scary. Kapan-kapan akan saya jelaskan.
Dalam rangka menajamkan pikiran dan menyebarkan pengetahuan, ke depannya saya akan menulis artikel pendek berseri tentang tanah asam, biogeokimia hara, gambut, & beberapa isu terkait
So, for old friends who follow me for who I was 2 years ago, stay tuned.

Comments