Mengenal Klasifikasi Herbisida

Terdapat beberapa pilar klasifikasi herbisida. Fondasi ini menjadi dasar pemilihan sebuah bahan aktif  untuk mengendalikan gulma di lahan budidaya. 

Klasifikasi berdasarkan cara kerja (Mode of Action), fase/timing pertumbuhan, translokasi, ekologi, spektrum dan metode aplikasi herbisida terhadap gulma sasaran di lapangan.

Penggolongan tersebut perlu diingat tidak berdiri sendiri. Satu sama lain saling terkait. Tidak bisa herbisida dipilih hanya karena efektif untuk membekukan stolon gulma, tapi juga harus dilihat selektivitas atau faktor lain

Yang dimaksud fase pertumbuhan adalah bahan aktif yang digunakan berdasarkan kondisi gulma di lahan. Apakah belum tumbuh (pra-tumbuh), baru saja tumbuh atau telah di fase vegetatif lanjut. 

Bila gulma masih berbentuk biji, stolon atau umbi yang belum berkecambah di dalam tanah, aplikasi herbisida pra tumbuh sebaiknya berbahan aktif Atrazine, Diuron, Imazapyr atau Oxadiazone. 

Mengingat sasaran gulma belum muncul ke atas permukaan, maka diaplikasikan dengan spray ke tanah (soil acting). Jenis gulma (daun lebar/sempit/teki) pun harus dipertimbangkan dalam memilih bahan aktif herbisida pra tumbuh. 

Bila gulma telah berkecambah namun belum bertumbuh lebih lanjut, gunakan herbisida awal tumbuh (early-emergence) seperti Atrazine, Mesotrione atau Metik Halosulfuron. 

Umumnya semua herbisida awal tumbuh juga bisa diaplikasikan sebagai pengendali biji gulma. Oleh karena itu, bahan-bahan aktif tersebut dapat disemprotkan ke daun gulma atau tanah 

Adapun bila telah mencapai fase vegetatif lanjut, herbisida yang bisa digunakan berbahan aktif Glifosat, Glufosinate, Triklopir, Metil Metsulfuron dan Paraquat. 

Sekali lagi, perlu diperhatikan pula jenis gulma yang akan dikendalikan, selektifitas dan sertifikasi lahan. Semua herbisida post emergency diaplikasikan foliar/lewat daun.

Berkaitan dengan status/sertifikasi lahan, perkebunan yang masuk dalam keanggotaan Rainforest Alliance secara tegas dilarang menggunakan herbisida kontak demi alasan ekologis. 

Klasifikasi berikutnya adalah berdasarkan spektrum. Apakah bahan aktif tersebut efektif untuk semua jenis gulma atau hanya jenis tertentu. Bisa juga diistilahkan herbisida selektif & non selektif. 

Bila di lahan terdapat gulma daun lebar, sempit atau teki, pilih bahan aktif non selektif seperti Glyphosate, Glufosinate, Paraquat dan Imazapir. Jangan lupa mengacu pada faktor lain seperti fase tumbuh gulma sebelum memutuskan. 

Sedangkan jika ingin mengendalikan gulma di sawah tanpa mengganggu pertumbuhan padi atau jagung, gunakan herbisida selektif semisal 2,4-D, Fluroxipir, Metil Metsulfuron Atrazine dan Simazine. 

Berikutnya adalah pengelompokkan herbisida berdasarkan translokasi yang mengacu pada fisiologi tanaman. Apakah bahan aktif tersebut tidak bergerak di dalam jaringan (kontak) atau  sistemik (berpindah melalui sistem pembuluh tanaman. 

Biasanya bahan aktif yang bersifat kontak relatif cepat bekerja. Gejala degradasi pertumbuhan gulma muncul seketika setelah aplikasi. Contohnya adalah Paraquat, Diquat Flumioxazine.

Sebaliknya herbisida sistemik bekerja lambat. Kematian gulma baru nampak 3 hari atau sepekan setelah penyemprotan Glyphosate, Triclopir, Dicamba, 2,4-D. Meski begitu, efek pengendalian bertahan lebih lama di lahan sehingga periodisasi spray bisa lebih panjang.

Terakhir adalah pembagian berdasarkan cara kerja (MoA). Klasifikasi ini berpatokan pada metode bahan aktif tersebut menyerang fisiologi tanaman. Semisal Triazine (kode 1) yang menghambat fotosintesis atau Imazapir (kode 2) yang merusak sintesis protein. 

Pengetahuan MoA penting sebagai dasar rotasi bahan aktif untuk menghindari resistensi  gulma sebagaimana pergiliran BA pada fungisida dan insektisida. Setiap MoA memiliki kode tersendiri. Bila mungkin, gunakan nomor MoA berbeda untuk mengendalikan jenis gulma yang rutin tumbuh di kebun.

Dengan begitu, bila anda ditanya apakah bahan aktif untuk mengendalikan gulma berkayu, dan membekukan stolon/biji gulma berdaun lebar/sempit dan teki di kebun kelapa, maka jawablah Triklopir dan Diuron. 

Demikian catatan pendek ini. Saya susun untuk menajamkan ingatan dan pengetahuan penting yang dibutuhkan untuk menemani petani di lapangan.

Comments