Tidak Semua Perlu Hibridisasi

20 tahun terakhir, dunia hortikultura bahkan tanaman pangan utama dimeriahkan oleh trend benih hibrida. Upaya pemuliaan tanaman guna menghasilkan varietas unggul, baik dari sisi produktifitas atau sifat-sifat fenotip yang dikehendaki pasar. 

Biasanya benih hibrida menawarkan potensi buah yang lebih banyak, besar dan panjang masa simpan, umur genjah, tahan penyakit. Oleh karena itu, sekarang, hampir semua komoditas dihegemoni oleh benih-benih F1. 

Dominasi tersebut lambat laun menggantikan posisi benih komposit atau galur lokal yang sebelumnya digunakan petani. Wajar saja karena apa yang ditawarkan benih lokal belum mampu menjawab kebutuhan pasar/tuntutan ekonomi. 

Mekanika agribisnis di atas, untungnya tidak perlu atau bahkan sebaiknya dihindari di sini. Cash crop di Indragiri Hilir, sejauh yang saya temui, adalah tanaman perkebunan. Kelapa, Pinang dan Sawit menghampar di ladang dan rawa yang dihimpit parit. 

Di sela-sela baris kelapa, atau di pekarangan, beberapa petani membudidayakan sayur-mayur. Salah satunya adalah Keluarga Ibu Ano, perantau dari Kulon Progo, yang sekarang menetap dan beranak-pinak di Desa Pusaran 8, Kec, Enok. 

Saat ditemui dirumahnya, beliau menunjukkan benih kacang tolo, benguk, jagung, cabai sisa panen yang disiapkan untuk musim depan. Semua tanaman tersebut dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan sayur rumah tangga. 

Bila berbicara horti, apa yang beliau sekeluarga lakukan adalah pertanian subsisten. Fokus utama adalah gizi keluarga. Bila berlebih, baru dilepas ke tetangga. Jarak dan akses yang cukup sulit menuju pasar, membuat masyarakat pun berprinsip asal ada

Kondisi geografis dan jenis vegetasi yang tumbuh lalu menjadi sumber ekonomi utama, menciptakan situasi dimana petani horti komersil yang berorientasi pasar hampir tidak ada. Alhasil, dari sisi perbenihan, yang sebaiknya disebarkan adalah biji-biji komposit. 

Di situasi tersebut, benih komposit, yang dapat ditanam berkali-kali tanpa mengalami perubahan fisik dan penurunan produksi,  cocok untuk kemandirian petani. Mereka bisa menggunakan benih hasil panen sendiri, tanpa perlu beli lagi. 

Seperti cerita Ibu Ano tadi. rena tidak berorientasi sepenuhnya pada produktifitas dan pasar, benih lokal sudah cukup baginya. Beliau bahkan meminta kepada saya untuk dibawakan benih kedelai lokal, yang di sini belum tersedia. 

Tidak hanya untuk beliau, kepada petani-petani yang lain juga akan saya tawarkan benih komposit. Sejauh ini, baru jagung, kedelai, kacang panjang, cabai kriting yang sudah tergambar. 

Barangkali ada di antara kalian yang punya benih jenis lain, bisa juga tuh ditawarkan. Target pertama yang penting bukan hibrida. Kalau kemudian ternyata karakter dan produktivitasnya juga tak kalah mulia, tentu tetap saya terima hehe. 

Mereka butuh benih yang bisa ditanam ulang tanpa perlu beli lagi lewat pasar digital. Petani di sini tidak perlu benih yang dihibridasi mengingat tujuan utama untuk dimakan sendiri. Jika dan hanya jika, tersisa baru dilepas kepada yang bersedia. 

Foto: Tempe khas Kulon Progo, dari kedelai impor. Mbah ini bercita-cita suatu saat bisa bikin tempe dari kedelai yang ditanamnya sendiri.

Comments