Sejak Januari, Bursa Efek Indonesia berduka. Kenaikan indeks yang dicapai selama 6 tahun lenyap sehingga banyak investor merugi
Portofolio saya unggul jauh dari IHSG bukan karena faktor lebih pintar dari market atau punya jalur orang dalam yang terlarang.
Setelah karunia Allah, kunci penentu adalah karena saya tidak ikut gila dan serakah sebagaimana mayoritas ritel unyu.
Saya luruskan niat & belajar filosofi dasar investasi di pasar modal. Setahu saya, beli saham adalah beli usaha yang berjalan.
Bisnis yang baik harus halal modal, transaksi dan komoditasnya. Dari sisi komersil, cashflow positif, minim hutang, dan menguntungkan.
Profit yang secara berkala dibagikan tentu juga kunci penting karena itu tanda manajemen peduli dan amanah kepada investor.
Aspek kewajaran tidak ketinggalan. Apakah sesuai valuasi dengan kondisi fundamental perusahaan & dividend yang rutin dibagikan.
Buat saya, harga yang dibayar harus cocok dengan nilai intrinsik perusahaan. Saya tidak akan beli Beat Karbu seharga Innova Reborn.
Ngomong-ngomong itulah analogi yang tepat untuk investor PTRO di harga ATH. Dia membeli Beat Karbu bekas senilai 500 juta.
Pertimbangan siklus bisnis, trend, hype dan kondisi geopolitik yang secara periodik datang silih berganti tidak saya jadikan acuan utama
Ringkasnya, jika dan hanya jika perusahaan itu sehat dari sisi syariat dan kaca mata bisnis, saya akan membelinya.
Sejak buka RDN Juni 2025, investasi saya di pasar modal tidak berkembang signifikan, mirip pertumbuhan bisnis di sektor riil.
Naik 1 digit, menurut saya yang pemula sudah cukup. Apalagi jika melihat nasib kebanyakan ritel unyu bermental pemabuk dan penjudi.
Mereka bermimpi harga saham terus tumbuh tanpa batas melampaui nilai riil perusahaan, & berani bertaruh atas angan-angan kosong itu.
Ujungnya, jangankan melonjak sesuai harapan, dari cacing jadi naga. Realitanya, rugi besar bahkan modal habis tanpa sisa.

Comments