Dinamika Kelapa dari Masa ke Masa (POV Petani)


Siang tadi adalah hari pertama atasan dan saya kembali bertugas di lapangan setelah libur lebaran. Menjelajah sejumlah desa dan kecamatan untuk silaturahmi dan penjajakan. 

Tujuan pertama adalah Desa Pekan Kamis, Kec. Tembilahan. Di sana, kami bertemu pria paruh baya Suku Banjar, yang sejak lahir telah akrab dengan dunia pertanian

Kami memanggilnya Bang Udin. Setelah basa-basi pembuka dan perkenalan, hadirin yang datang berbincang-bincang tentang dinamika bisnis perkebunan. 

"Kami di Inhil, justru paling senang ketika Indonesia dipimpin Habibie. Dampak lrisis ekonomi 98, mana terasa di sini. Harga barang masih murah, tapi nyiur (kelapa) mendadak laku mahal," ungkap beliau.  

"Di masa itu, dealer motor sampai kewalahan. Lebih banyak orang datang bawa duit cash dibanding stock motor yang ada. Biar Indonesia krisis, petani Inhil makmur." tambahnya. 

Selain di zaman itu, hal serupa terulang ketika Covid merebak. Bahkan menurut penuturannya, masyarakat INHIL sangat beruntung karena dapat rejeki dari dua arah. Hasil panen kelapa dan bantuan langsung negara. 

Kini, masa keemasan telah berlalu. Bang Udin mengatakan bahwa tanam kelapa teruk (sengsara), tanggul banyak jebol, air masuk tak bisa keluar karena parit mendangkal, alhasil panen berkurang ditambah harga pun tak secantik dulu.

"Sayangnya, di masa Pemda punya anggaran pembangunan, bupati yang dulu kurang peduli kebun kelapa rakyat. Tanggul-tanggul, pencegah air pasang, tidak banyak yang diperbaiki," sesal beliau

"Beda dengan sekarang, Kepala Daerah sangat perhatian dengan komoditas unggulan Inhil, banyak cita-cita dan program revitalisasi kebun & parit, hanya saja anggaran tak ada, dipotong untuk MBG," paparnya membandingkan. 

Di tengah situasi yang kurang menguntungkan, berdasarkan cerita yang saya tangkap, beliau dan banyak petani di desa tersebut tidak menyerah dan melakukan berbagai inovasi. 

"Adalah tuh kami cari berbagai induk kelapa unggulan.  Pohon berbuah besar, dan melimpah kami seleksi. Anaknya kami coba tanam, siapa tahu keturunannya baik," urainya.

Demikianlah POV petani di Kawasan Hamparan Kelapa Dunia. We can't let them walk alone because the problem is too big and complicated to be resolved unassisted..

Comments