Setelah 2 bulan tinggal di Indragiri Hilir, capital of coconut plantation of the world, Sunset adalah pandangan saya tentang ekosistem kelapa di sini.
Senja bukan karena kebutuhan pasar atas kelapa dan turunan berkurang atau hilang, tapi di hulu Industri itu sendiri yang saat ini sedang menghadapi krisis.
Dari sisi kapasitas, produksi perkebunan rakyat yang menguasai hulu industri Kelapa telah turun. Faktor usia menjadi alasan utama.
Most trees are now above 60 years old, which no longer optimum for production, bahkan untuk varietas kelapa dalam. They are obviously on massive decline.
Bisa dibilang, santan di rendang dan cendol yang kita konsumsi mayoritas ditanam di awal era orde baru. Senior citizen alias semestinya sudah pensiun.
Bukan petani tidak mau replanting tapi mereka ragu dengan kemampuan adaptasi kelapa di lahan gambut yang tengah mengalami kemorosotan parah.
Subsidensi alias penurunan muka tanah akibat industrialisasi hutan gambut is inevitable. For short, in my opinion, peat land is dying because the cultivation itself
Untuk dapat ditanami secara massif, lahan gambut tidak boleh tergenang. Air harus dialirkan ke sungai lalu dibuang ke laut melalui parit-parit yang digali di kebun rakyat.
Sayangnya, gambut yang terlalu lama kering adalah bencana itu sendiri. Seperti spons, gambut hanya mengembang lalu mampu menopang ekosistem di atasnya jika basah.
Land subsidence triggers catastrophic chains of effect. Water table naik sehingga parit tidak bisa bekerja. Akar yang terendam membuat tanaman stress, bahkan mati.
Upaya pendalaman kanal agar akar bisa berfungsi pun tidak mudah & murah. Belum lagi, air tak cuma datang dari hujan tapi saat ini juga masuk dari laut dipicu global warming
Bicara soal pemanasan global, CO2 hasil oksidasi tanah gambut yang kering membuat Bumi semakin panas. Es di kutub mencair dan akhir yang buruk tidak terhindarkan.
Kalau sudah begitu, rasionalitas dan pragmatisme petani berhenti menanam kelapa tidak bisa disalahkan. They must survive on ecosystem where coconut don't.
Di kondisi demikian, tanaman tahan banting yang lebih resisten genangan jadi pilihan satu-satunya untuk dikebunkan. Seburuk apapun opini dunia tentangnya, di sini sawit adalah pahlawan.
Walau bukan baru-baru ini dikenal, tren peningkatan permintaan dunia mengakselerasi peralihan komoditas dalam skala yang luar biasa.
Di banyak kecamatan di sisi selatan Indragiri Hilir hingga Jambi, kini sulit menemui hamparan kebun kelapa sejauh mata memandang. Most what you see is palm oil.
Selain soal daya tahan, bobot panen TBS per pokok sawit lebih banyak. Meski dihargai murah per kg, saat dikalikan produksi per tahun, nominal rupiah sawit tetap lebih baik dari kelapa.
All the words unveil why coconut industry is going down. Tanpa strategi yang benar dan usaha yang baik dari semua pihak, jargon "Hamparan Kelapa Dunia" will soon be meaningless as "The Sun never sets in British Empire".
My stance is clear, the coconuts is supposed to be here, therefore we can't let sunset engulf them. In cooperation with stakeholders, I will do whatever necessary and possible to sustain the ecosystem in a place where it belongs, Pesisir Pantai Timur Sumatera.


Comments