Lebaran Tahun ini Makin Tidak mudah Bagi Banyak Orang



Idul Fitri tahun ini asyik. Di tanah rantau, saya merasakan atmosfer lebaran seru nan unik. Kegembiraan dan kehangatan hasil silaturahmi ke rumah kawan-kawan baru dari berbagai suku. 

Di tengah-tengah aktivitas menyantap Burasak khas Bugis, Gulai Ikan dari Melayu, Opor Ayam Jawa, dan Lepat tradisi Banjar,  kami berbicara banyak hal random pemanis keakraban. 

Beberapa topik panas yang terlontar adalah isu pemangkasan APBD, MBG, KDMP, inflasi pangan saat lebaran dan menurunnya daya beli masyarakat. 

Dalam perjalanan dari rumah ke rumah mendatangi acara Open House, sejumlah  orang mengeluhkan berkurangnya transfer pusat ke daerah untuk pembiayaan APBD. 

"Tahun ini, anggaran dipotong hingga sekian ratus M. Dana yang tersedia hanya cukup untuk belanja pegawai dan pos pengeluaran rutin, menyisakan sedikit sekali budget untuk belanja modal/pembangunan" jelas seseorang. 

"Betul, bukan hanya APBD, Dana Desa juga signifikan berkurang, bahkan untuk bayar gaji perangkat kelurahan saja sepertinya Kades harus berpikir keras hinga pusing," celetuk yang lain

"Berat memang lebaran tahun ini, sudah ekonomi dan pembangunan kurang baik, harga sembako pun melonjak, kemarin di pasar, harga ayam potong menyentuh Rp.150.000/kg"  saut seseorang di kursi belakang. 

"Pemerintah nampaknya fokus pembiayaan MBG dan KDMP, sehingga alokasi dana untuk program lain dikorbankan," jawab saya menanggapi. 

"Dampak negatif kebijakan memang terasa, apalagi MBG ini juga tak benar-benar bergizi & banyak penyelewengan. Begitu pun KDMP, mengingatkan saya jejak KUD di era Suharto, penuh skandal yang hanya memperkaya elit," tambah saya. 

Nampaknya negara ingin menghidupkan kembali era sentralisasi kekuasaan di tangan pemerintah pusat. Daerah tidak diberikan ruang berkreasi sebagaimana amanat semangat reformasi. 

Belum selesai cerita duka, seorang sosok yang dituakan masyarakat bercerita: 

"Di malam lebaran, sekitar 10 orang bertamu ke rumah. Ada yang minta dibantu bayar zakat fitrah, tak sedikit bingung besok lebaran makan apa, sebagian bertanya, kiranya ada peluang kerja," begitu katanya. 

"Saya sedih, mereka ini miskin bukan karena malas tapi betul-betul dipaksa keadaan. Tak ada pendidikan, tak ada modal, kerja serabutan yang selama ini jadi penopang hidup kini semakin berkurang," tambahnya. 

Demikian sebagian gambaran isu-usu dan keprihatian yang berkembang di sini. Saya yakin, di daerah lain pun tidak jauh berbeda. Karena kebijakan Jakarta, lebaran tahun ini makin tidak mudah untuk kita.

Comments