Belakangan ini, banyak petani telah mengetahui Trikoderma. Jamur yang berperan sebagai agensi hayati.
Disebut demikian karena perannya dalam membantu petani mengendalikan penyakit, terutama yang hidup berkembang di dalam tanah.
Sebagai makhluk hayati, Trikoderma bekerja sebagai pasukan yang menguasai ruang hidup di sekitar perakaran (Rizosfer) sehingga biang penyakit seperti Fusarium, Phytium, Cercospora, Colletotrichum tidak dapat berkembang tanpa kontrol di dalam tanah.
Selain dengan cara demikian, Trikoderma juga diketahui memproduksi zat antibiotik yang dapat membunuh jamur patogen yang berkeliaran di sekitar akar.
Dari uraian tersebut, kita tahu bahwa aplikasi Trikoderma sifatnya adalah mencegah infeksi penyakit bukan mengobati yang telah bergejala.
Ketika sebatang pohon cabai terindikasi layu maka Trikoderma telah kalah dalam pertempuran melawan Fusarium atau Verticilium di dalam tanah sehingga jamur patogen tersebut leluasa menginfeksi tanaman lewat sistem perakaran.
Untuk menghindari insiden tersebut, dua hal perlu diperhatikan oleh petani terkait metode penggunaan koloni Trikoderma di tanah yaitu waktu aplikasi dan ketersediaan bahan organik di dalam tanah.
Layaknya tentara, untuk siap bertempur, mereka perlu waktu berlatih. Beradaptasi dengan kondisi medan, mempelajari taktik dan strategi juga melakukan simulasi. Kita tidak bisa berharap pasukan pemula tanpa latihan dapat memenangkan pertempuran jika langsung diterjunkan.
Trikoderma juga demikian. Jamur ini butuh waktu untuk hidup kemudian berkembang membentuk koloni kuat yang menguasai tanah di sekeliling sistem perakaran.
Oleh karena itu, jika berharap dampak pemakaian Trikoderma maksimal, petani harus menggunakan sedini mungkin sejak olah tanah. Bukan ketika sudah muncul gejala layu, seperti yang dipraktikkan banyak orang saat ini.
Selain itu, untuk memaksimalkan efek gentar, secara berkala petani juga perlu mengirimkan bala bantuan dengan aplikasi ulang Trikoderma secara periodik di masa vegetatif dan generatif.
Berikutnya adalah urusan logistik. Kita tahu, perang apapun dimenangkan oleh logistik terbaik. Jika petani berharap Trikoderma dapat bertempur dengan prima, siapkanlah makanan dan kondisi lingkungan ideal untuk mereka.
Sumber pangan utama Trikoderma adalah bahan organik, terlebih yang terfermentasi atau menjadi kompos.
Pengocoran Trikoderma di lahan yang miskin kompos, pupuk kandang atau material organik apapun seperti menerjunkan pasukan tanpa bekal makanan. Bagaimana mereka bisa hidup dan bekembang dengan baik.
Lalu, apabila tempat tinggal tentara dibiarkan kotor, jorok, berantakan, jelas mustahil mereka bisa bekerja optimal.
Berkaitan dengan Trikoderma, jamur ini menyukai tanah yang tidak hanya kaya bahan organik, tapi juga memiliki porositas baik, pH tidak terlalu asam, sirkulasi air dan udara lancar. Bukan tanah yang becek, sangat lembab dan pH rendah.
Sebagai rekomendasi pamungkas, Sebaiknya, dalam melarutkan serbuk Trikoderma, petani menyertakan bahan yang mengandung gula dan protein. Ini bertujuan agar spora Trikoderma yang dorman dapat aktif dan berkembang biak sejak awal mula aplikasi.
Sekian, dan terimakasih

Comments