"Selama tinggal di kebun, kami tak pernah belanja sayur bang. Buat perut sendiri, kami memanfaatkan yang istri tanam di pekarangan. Saudara juga kadang minta untuk konsumsi," beber Indra.
Selain buah kelapa, tanaman yang tumbuh di bawah tegakan nyiur tidak ditukar dengan uang alias pertanian subsisten. Budidaya semata-mata guna mencukupi kebutuhan.
Kucai, katuk, singkong, ubi jalar, pepaya, jambu, cabai ditanam tanpa pertimbangan agribisnis. Mereka ada karena mampu hidup di bawah naungan, bergizi & layak konsumsi.
Selagi bisa diproduksi sendiri, tak perlu beli. Karenanya, uang hasil kerja/panen kelapa hanya dipakai keperluan lain yang harus dirupiahkan seperti pulsa, gas & indomie.
Berdasarkan kondisi itu, introduksi berbagai sayur kampung ke ekosistem kebun kelapa di menjadi relevan. Benih lokal & komposit, singkatnya, merupakan jawaban
Petani tidak butuh jenis/varietas sayur yang laku di pasar/punya produktivitas memuaskan. Dengan begitu, timun, cabai gambas dan pare hibrida jelas tidak diperlukan.
Selama tanaman itu mampu bertahan di tanah gambut pasang surut, tahan hama penyakit, minim perawatan & bisa ditanam ulang, maka panen berapapun tak jadi persoalan.
Budidaya apapun yang bisa direplikasi tanpa biaya tambahan layak diusahakan. Contohnya, bayam potong, kecipir, gambas ular, labu kampung, sawi ladang & timun hutan.
Dalam hal ini, semakin banyak jenis non F1 dikembangkan di ladang, semakin baik dan mapan ketahanan pangan. Karena apa yang dimakan, tidak perlu input produksi pabrikan.
Keanekaragaman hayati berbasis sumber genetik lokal juga mengurangi kerentanan petani terhadap perubahan alam & resiko kekurangan gizi meski jauh dari peradaban

Comments