Kamis siang, 2/4, saya berkunjung ke Kedai Kopi Liberika 1 di Jl. Simpang Pintu Air, Tembilahan. Setibanya di lokasi, telah duduk seorang pemuda berkacamata, yang mengenalkan dirinya sebagai pemilik usaha.
Selain menikmati segelas kopi, laki-laki asal Inhil bernama Jaka ini adalah tujuan utama. Darinya, saya berharap dapat menggali informasi seputar Liberika. Kopi dataran rendah yang pernah saya lihat tumbuh sebagai tanaman sela di kebun kelapa.
Usai perkenalan dan basa-basi pembuka, saya bertanya bagaimana bisnis ini bermula. "Bapak & saya gelisah dengan fluktuasi harga kelapa, sumber ekonomi mayoritas massa, sering tidak sesuai asa," jawabnya.
"Sebetulnya sempat tertarik dengan upaya hilirisasi nyiur untuk meningkatkan laba warga tapi terkendala biaya. Selanjutnya, kami cari cara bagimana memaksimalkan manfaat tanah kosong di sela-sela pokok kelapa," lanjutnya.
Magister Manajemen ini sempat mencoba budidaya merica namun tidak berjalan lama karena faktor iklim dan cuaca. Beruntungnya, sebuah kunjungan ke kabupaten tetangga, menyingkap sejarah lama.
"Ternyata di Meranti, banyak petani tanam Kopi Liberika lalu sejahtera. Dengan karakter geografis dan tanah yang serupa, mestinya di Inhil pun bisa. Lantas, kami kepincut untuk mengembangkan industri yang sama," jelasnya.
Disangrai, Tidak Disemai
Dengan dukungan moral & finansial dan jejaring keluarga, di tahun 2016 kerja itu bermula. "Puluhan kg biji siap semai kami beli kemudian bagikan secara cuma-cuma kepada petani yang bersedia di 13 desa," tandasnya.
Menurut penuturannya, setelah sosialisasi metode budidaya terbangun perjanjian bahwa beliau akan menampung semua hasil panen petani sesuai harga yang disepakati di muka.
Dengan penuh optimisme, 3 bulan berikutnya beliau datang kembali ke kampung-kampung tersebut. Bukan melihat benih bertumbuh menjadi bibit yang akan membumbung tinggi di ladang, malah 80% biji berubah menjadi bubuk siap hidang.
Langkah pertama gagal besar karena sebagian besar petani memilih mengolahnya menjadi bercangkir-cangkir kopi ketimbang menyemai biji. Tak patah arang, dengan penuh keyakinan, beliau coba metode kedua.
"Saya datang lagi berusaha keras meyakinkan petani dengan aneka cara termasuk menginap di rumah warga. Dengan bantuan relasi di UNISI yang menyemai benih, saya tawarkan kepada mereka puluhan ribut bibit siap tanam," ceritanya berapi-api.
Nyatanya, jalan menuju sejahtera bersama-sama, tidak seindah yang dikira. Karena berbagai faktor, dimana petani juga tidak bisa mutlak disalahkan, hanya 40% bibit yang betul-betul ditanam di antara pohon kelapa.
Bahkan ada satu warta jenaka. "Jadi saat silaturahmi ke salah satu ketua kelompok tani, saya melihat bibit tersebut ditanam di polibag dan ditata rapih di atas rak bersusun. Di tengahnya tertera maklumat "Bibit Dijual," ungkapnya.
Alih-alih mendapat rupiah dari hasil bercocok tanam kopi di bawah kelapa, menurut keterangan yang bersangkutan, berdasarkan kesepakatan bersama, warga lebih memilih segera dapat uang dengan menjajakan bibit yang diperoleh tanpa biaya.
lanjut part dua...


Comments