Superman itu Bernama Indra

 


Rabu, 15/4, saya berkunjung ke sebuah kebun kelapa warga. Lokasi tersebut cukup terpencil, sekitar 75 menit waktu tempuh dari pusat kecamatan 

Sebagai gambaran, walau titik itu menyatu dengan daratan utama Kabupaten Inhil, listrik negara tidak sampai ke sana. Warga memperoleh energi dari panel surya 

Setelah motor tidak lagi dapat melintas, 1.5 km berikutnya saya lanjutkan dengan jalan kaki menyusuri tanggul swadaya. Di sana, tujuan saya adalah Indra, pemuda petani kelapa. 

Di rumah panggung, yang ia bangun dengan tangan sendiri, kami berbincang. Tidak lama, saya menyimpulkan, pria Banjar, yang 3 bulan lagi akan menyambut anak pertama ini, bukan lelaki biasa. 

Usai menikah di usia 22 tahun, bersama istri memutuskan hidup jauh dari keramaian. Di saat banyak lelaki seusianya merantau bekerja di pabrik atau berdagang, lulusan SMK itu memilih berkebun. 

"Saya tak betah kerja di pabrik atau ikut perusahaan bang. Waktunya terikat. Beda kalau hidup di kebun seperti ini. Semua bisa saya atur sendiri. Kapan kerja dan istirahat tidak tergantung orang," jelasnya beralasan. 

Dengan tenaga & keterampilan sendiri, Ia babat alas menghidupkan kebun yang belasan tahun terbengkalai ditinggalkan. Bermodal kesepakatan bagi hasil dengan pemilik lahan, langkah pertamanya adalah mengatasi banjir. 

Indra menggalang dana pribadi & petani kelapa lain di lokasi terdampak untuk pembangunan tanggul. Total hampir 100 juta dihabiskan guna menyewa eskavator yang membentengi kebun sepanjang 10 km dari air pasang. 

Fase berikutnya adalah mengurus nyiur yang tertutup semak belukar. Setiap hari, sejak 1.5 tahun lalu, pohon demi pohon dibersihkan. Selain itu, parit-parit rusak nan dangkal diperbaiki

Agar dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga sebelum panen kelapa perdana, Indra bekerja sebagai buruh panen di kebun tetangga. Bila musim tiba, Ia sempatkan menangkap kepiting bakau untuk dipasarkan. 

Di luar sembako yang harus ditukar dengan uang, sang istri menanam berbagai tanaman pangan di pekarangan. Adapun lauk, hasil menjala di sungai cukup untuk memenuhi kebutuhan. 

8 bulan berlalu, pohon yang dirawat mulai menghasilkan. Terhitung 1300 butir berhasil Indra turunkan dari ketinggian. Panen kedua menyusul 4 purnama berikutnya, kali ini 1400 buah kelapa berhasil dipasarkan. 

Selain soal keberanian mengambil opsi berbeda dari kebanyakan, hal menakjubkan lain dari pasangan muda ini adalah kemandirian. Semua aspek penopang rumah tangga diusahakan sendiri tanpa bantuan. 

23 baris pohon kelapa, sumber daya alam yang ada di sungai dan tanaman apa saja yang bisa hidup di sana kini jadi andalan keduanya meniti masa depan. Superman, itulah julukan yang layak buat mereka.

Comments