Hilangnya Generasi Penerus di Kota dan Desa...


 

Belakangan saya sering mendengar bahwa Gen-Z & Milenial menunda pernikahan atau bahkan enggan. Sebagian ingin berpasangan tanpa keturunan. 

BPS mencatat bahwa angka pernikahan, jumlah pernikahan setiap 1000 orang dan kelahiran bayi konsisten turun selama 5 tahun terakhir. 

Data tersebut, obrolan receh di media sosial serta pilihan hidup sejumlah rekan pria & wanita sejawat di kantor seolah saling mengkonfirmasi. 

Sampai di sini, saya belum terlalu khawatir, karena bisa saja ada bias data atau fenomena ini terbatas di kalangan berpendidikan yang merasakan kehidupan penat nan melelahkan di kota. 

Dugaan berubah jadi gelisah saat saya mendengar cerita serupa manakala mampir di sebuah warung. Tempat nongkrong penduduk setempat yang terbiasa dengan kehidupan slow-living. 

Pemiliknya seorang ibu warga lokal, yang saya tebak usianya di atas 50 tahun. Sejak lahir hingga bercucu, nampaknya beliau tinggal di sana, di Desa Enok, Kecamatan Enok, Indragiri Hilir. 

Secara demografi, masyarakat setempat adalah petani, nelayan dan pedagang hasil alam. Mayoritas milenial & gen-Z hanya sekolah hingga jenjang menengah. Setelahnya mereka berladang, melaut atau merantau.

"Sekarang semakit sedikit anak-anak yang lewat dan main di depan rumah. Pemuda/i yang menikah juga semakin sedikit. Bayi yang lahir juga jarang sekali ada di kampung ini," tutur si ibu kepada saya. 

"Tahun 2000-an belum seperti itu. Saya sering  tengok bayi. Undangan pernikahan datang terus-menerus silih berganti. Cukup banyak anak-anak yang main dan jajan di sini," ungkapnya melanjutkan.

Kisah beliau tersebut diaminkan oleh pengunjung kedai, warga lokal yang saat itu duduk di samping saya. Menurutnya, indikator lain adalah semakin banyak kursi kosong di TK, SD hingga SMP/A. 

Now, it's worrying. Ternyata laju regenerasi melambat tak hanya di pusat keramaian. Hilangnya penerus bangsa bukan cuma fenomena yang ada di kota, tapi pun desa. 

Our civilization and economy are not rich and advanced enough to be like Japan and South Korea, yet the declining population is similar to them. Tidak sempat jaya, menuju punah duluan.

Comments