Saat ini harga kelapa berada pada salah satu titik terendah dalam 5 tahun terakhir. Kisaran nilai sebutir kelapa di tingkat petani adalah 1600-1900.
Penurunan terus terjadi sejak Perang di Selat Hormuz terjadi hingga saat ini. Hingga kini, secara akumulatif telah berkurang separuh dari harga di akhir Februari.
Dari harga yang dibayar pengepul, pemilik lahan harus berbagi 50% kepada pekerja kebun. Sedangkan selaku penggarap, buruh tani harus menanggung biaya perawatan dan panen.
Jika rata-rata dalam 1 hamparan hasilnya adalah 3000 butir kelapa setara 3 ton, uang penjualan adalah 5.7 juta. Setelah dibagi dua, pemilik mendapat 2.85 juta.
Adapun bagian pengelola masih harus dikurangi rental angkutan Rp.400.000/trip, upah kupas kelapa Rp.200/butir dan biaya aplikasi herbisida Rp. 300.000/3 bulan. Tersisa 1.5 juta/panen atau setara 500/kelapa.
Ini artinya, pemilik harus menukar 2 kelapa guna membeli 1 butir telur. Sedangkan nasib pekerja kebun lebih menyedihkan karena untuk menikmati satu telur mata sapi harus menjual 4 buah kelapa.
Kenapa bisa semurah itu? Perang membuat harga kebutuhan pokok di banyak tujuan ekspor meroket. Di sisi lain di mayoritas negara tersebut, kelapa tidak termasuk sembako yang harus dibeli apapun yang terjadi. Sehingga, permintaan kelapa dan produk turunan berkurang dramatis.
Begitulah kondisi ekonomi petani kelapa yang tengah saya diskusikan dengan 2 tokoh petani di bawah ini.
Comments