Modifikasi dan Kompromi Teknik Budidaya Demi Gambut dan Petani

 

.

Figure 1 Pak Zam-Zam tanam timun

Di Desa Simpang Tiga, Enok, Indragiri Hilir saya bertugas membangun Agricenter. Bersama petani, kami bekerjasama membangun kebun kolektif sumber pangan dan ekonomi alternatif kelapa, yang saat ini tengah terpuruk karena lesunya permintaan ekspor global.

Secara agroekosistem, lahan Agricenter tersebut merupakan tanah gambut hitam pesisir dengan porositas tinggi. Saat El-Nino, sumber air di sumur resapan utama yang dangkal menjadi asin karena intrusi pasang air laut. Oleh karenanya, pasokan air tawar yang dapat digunakan untuk budidaya sangat terbatas. 

Satu dari beberapa petani yang berladang di sana adalah Pak Zam-Zam, lelaki Melayu 61 tahun dengan 5 anak yang semuanya belum menikah. Setelah kehilangan kebun kelapa satu-satunya yang dijual untuk biaya kelahiran anak terakhir, beliau bersedia merintis usaha tani dari awal lagi, dengan panduan teknis dari saya.

Sebagaimana umumnya petani kelapa di Riau, Pak Zam-Zam tidak pernah budidaya sayur intensif. Di luar komoditas perkebunan, lakon tani yang jamak adalah subsisten. Tanam sayur di sela-sela pokok kelapa, tinggal hingga panen seadanya untuk konsumsi di rumah. Tak ada optimasi apapun alias nrimo ing pandum, pasrah dengan kondisi alam.

Menghadapi kondisi kebun dan manusia yang demikian, saya melakukan beberapa adaptasi teknik budidaya, dalam hal ini timun. Saya modifikasi sejumlah perlakuan mengikuti karakter tanah, lokasi, cuaca, budaya serta kebiasaan petani. Kompromi sedemikian rupa tak terhindarkan agar optimasi tak menimbulkan resistensi.

Tidak seperti persiapan tanam timun profesional pada umumnya, pak Zam-Zam hanya melakukan olah tanah minimal dan tanpa membuat bedeng/guludan. Metode ini berguna melestarikan kelembaban tanah gambut. Berdasarkan observasi kolektif, kami menyimpulkan bahwa mempertahankan struktur alami gambut adalah cara terbaik menjaga daya kapilaritasnya. 

Ibarat sumbu kompor atau sponge, gambut natural mampu menyerap air dari lapisan bawah menuju permukaan. Pada kondisi itu, kelembaban tanah mulai kedalaman 5-10 cm konsisten terjaga di kisaran 60-70% sepanjang tahun. Di luar itu, gambut nir persoalan kompaksi karena sangat berpori. Karenanya, meski tanpa penggemburan, akar mudah menjelajahi seluruh lapisan pedosfer tanpa khawatir dengan pasokan oksigen (aerasi) dan masalah drainase air.

Figure 2 Timun Muda 3 hst

Sebaliknya, di petak kecil yang tercangkul dan tergulud terjadi fluktuasi kelembaban tanah ekstrim bahkan bila disiram setiap hari. Tidak sampai tengah hari setelah pagi disiram, kadar air di kedalaman 5 cm sudah jauh dari ideal, terutama untuk tanaman sukulen seperti bawang merah dan timun. Inilah dasar mengapa olah tanah minimal adalah pilihan optimal untuk tanah gambut hitam.  

Menyesuaikan sifat fisik gambut di atas, system tanam yang digunakan adalah tabela (tanam benih langsung) alias tanpa semai. Dalam rangka mendapatkan daya kecambah optimal, benih ditanam di kedalaman 10 cm di lubang berdiameter seperti radius tumbuh daun lembaga.   Melubangi tanah sedalam dan lebar itu adalah satu-satunya olah tanah yang pak zam-zam kerjakan.

Setidaknya ada dua keunggulan lain dari metode tanam itu yaitu terjaganya vigor bibit dan minimnya resiko serangan hama penggigit/pengunyah. Biji yang tumbuh dan daun yang bersemi tidak langsung terpapar sinar matahari sepanjang hari. Ada 3 hari waktu tambahan sejak berkecambah untuk beradaptasi sebelum daun mencapai permukaan tanah. Jeda tersebut juga melindungi tunas dan daun muda dari serangan belalang di fase tumbuh yang sangat rentan,.

Selain tabela dan olah tanah minimal yang tidak hanya menyesuaikan karakter tanah tapi juga kebiasaan petani, jarak tanam juga dipilih dengan pertimbangan serupa.  Pak Zam-Zam menggunakan model single row dengan jarak timun di dalam dan antar baris adalah 125 * 75 cm. Ini lebih renggang dari rekomendasi umum yaitu 50 *100 cm.  Persetan soal efisiensi penggunaan lahan karena di sini tentang luasan bukan persoalan.

Tambahan jarak tersebut memberikan ruang tumbuh ekstra bagi sulur dan meminimalisir resiko daun yang tidak terekspos sinar matahari. Harapannya, fotosintesis daun lalu produksi buah tetap lebih tinggi dari pakem meski tanpa pemangkasan. Sebuah kemudahan bagi pemula, yang mulai belajar budidaya komersil. Selain itu, pak Zam-Zam sendiri memang bersikeras menghindari pemangkasan. Sayang tanaman katanya.

Dibanding harus mengurangi cabang, sulur atau daun, dalam musyawarah agronomis antara saya dan petani, ternyata Pak Zam-Zam lebih suka memupuk dengan periodisasi pendek. Ini cocok dengan karakter porositas tanah gambut yang begitu tinggi dan berdampak pada minimnya kemampuan menyimpan hara. Dengan demikian, agar  potensi kehilangan hara berkurang, frekuensi pengocoran perlu diperbanyak.

 

Bila umumnya pengocoran dilakukan sekali per minggu, umpamanya dengan dosis 2 kg NPK 16/16/16 per 200 liter air, maka timun pak Zam-Zam menerima asupan pupuk via tanah sebanyak 2 kali per pekan. 1 kg NPK untuk masing-masing aplikasi. Takaran pupuk tidak berubah, hanya diberikan secara bertahap dalam waktu  sepekan.

 Demikian beberapa modifikasi agronomis yang sudah diterapkan di timun milik Pak Zam-Zam.  Memang bukan sesuatu yang ideal untuk menghasilkan panen maksimal. Tapi seperti yang saya ucap di awal, bila budidaya subsisten selama ini hanya menghasilkan 2-3 buah per tanaman, maka dari kompromi di atas target kami hanya 8-9 timun per pokok.

Figure 3 Timun 20 hst

Bila dirupiahkan dengan patokan harga terendah di tingkat produsen di Indragiri Hilir kurang lebih dari Rp. 5.000 menjadi Rp. 12 – 15.000. Lompatan yang tidak bisa disebut kecil untuk petani yang baru bermigrasi dari budidaya apa adanya menuju cocok tanam berorientasi ekonomi. Bismillah, semoga berhasil.

                                                                                      Kuala Enok, 25/9/2020

 

 

                                                                                      Ditulis saat timun berusia 22 HST

Comments