5 Motivasi Menulis Dalam Islam


Bismillah

                Tulisan adalah karya, maka proses untuk membuatnya disebut berkarya. Lazimnya sebuah kerya tentunya memiliki tujuan kenapa dia dibuat. Karenanya sebelum kita menulis tetapkan dahulu  tujuan dari karya  tulis yang akan digarapSemoga teman tak bosan mendengar sebuah hadits. Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada  niatnya, dan setiap orang hanya mendapat balasan sesuai niatnya[2]Oleh karena sebagai muslim yang kita harapkan adalah pahala. Maka dalam konteks menulis, motivasi atau niat Apakah yang ada dalam diri saya agar mendatangkan pahala dari karya tersebut.

Berbagi dengan Sesama (Berdakwah)

Masih ingat hadits berikut, Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman[3].   

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullahu berkata: bahwa menulis adalah bagian dari menolak keburukan dengan lisan, karena menulis tak ubahnya seperti berbicara[4]. Dengan ini tidak ragu lagi, bahwa berdakwah adalah motivasi yang benar sekaligus mendatangkan pahala dalam menulis. Termasuk juga kategori menulis untuk berdakwah, menulis untuk meluruskan kesalahan. Misalkan, kita temukan sebuah tulisan atau pernyataan yang menyelisihi kebenaran. Tulisan dapat pula kita fungsikan sebagai alat untuk meluruskan kesalah itu. Akan tetapi semua ini harus dilakukan sesuai kemampuan dan jangan memaksakan diri.

Menulis untuk Belajar

                Belajar Islam adalah sebuah kewajiban dan segala perkara yang dapat membantu terpenuhinya sebuah kewajiban terdapat pahala didalamnya[5]. Kita tahu bahwa menulis dapat membantu otak menyerap ilmu. Saya kira teman-teman faham betul kenapa menulis berfungsi demikian. Menuliskan ilmu yang kita dengar atau baca maka tak ubah seperti mempelajari kembali ilmu tersebut. Sedangkan mana yang lebih baik dalam proses belajar, mempelajari suatu ilmu sekali atau dua kali?

Menulis untuk Mewarisi

                Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya[6]Menulis kemudian menampilkannya di blog atau mencetaknya dengan kertas dapat membuatnya menjadi sebuah warisan yang bermanfaat sekaligus bekal akhirat. Kenapa? Karena jika anda mati, sementara orang lain masih bias mengakses atau membaca tulisan tersebut diikuti mengamalkan kandungannya. Bukankah yang demikian itu adalah amal jariyyah sekaligus warisan ilmu yang bermanfaat?

Menulis untuk Diskusi

                Diskusi adalah satu metode yang dapat membantu proses belajar. Sementara tadi telah kita sebutkan bahwa segala hal yang dapat membantu terwujudnya sebuah kewajiban maka terkandung pahala didalamnya. Lalu bagaimana bisa dikatakan menulis adalah sebuah jalan untuk berdiskusi? Dengan menulis kita dapat menstimulan orang lain  terlibat diskusi. Bukankah sering kita lihat diskusi yang baik dan menarik dibawah tulisan yang ada di sebuah blog.

Menulis untuk Memenuhi Hak Teman

                Islam mengajarkan konsep hak dan kewajiban dalam berteman. Kita sebagai seorang teman dituntut islam untuk memenuhi hak orang lain yang menjadi teman kita. Apa sajakah hak itu. Simak hadits berikut, dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia mengundangmu maka penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)".[7]

                Nasehat adalah kewajiban kita yang wajib kita penuhi kepada teman. Nasehat dapat berupa lisan maupun tulisan. Jadi tunggu apalagi, menulislah untuk menasehati temanmu. Selain itu kita juga diperintahkan untuk membantu teman muslim kita. Andai teman kita kesulitan untuk memahami suatu bab ilmu, maka dengan menulis artikel yang mudah dipahami teman tersebut. Tak pelak merupakan satu wujud bantuan yang kita berikan baginya.
Bersambung. Insya Allah



                 



[1] (Diriwayatkan secara Marfu' dari sahabat Anas bin Malik, Abdullah bin Amr bin Al Ash dan Ibnu Abbas Radhiallahu anhum, dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah As Shohihah no 2026)
[2] HR Bukhari dan Muslim
[3] HR Muslim
[4] Syarah Hadits Arba’in, karya beliau Rahimahullahu ta’ala
[5] Ini adalah kaidah fiqhiyyah islamiyyah
[6] HR Muslim
[7] HR Muslim

Comments

Fauziah Husnaa said…
subhanallah...
bagaimana caranya mendapatkan gaya menulis ?
masih ikut2an gaya menulis orang lain..