Ironi Masjid dan Kuburan


 Bismillah
 

Ketika istirahat untuk sholat disebuah desa yang terletak di Arjawinangun semalam, saya temukan sebuah pemandangan menyedihkan. Meskipun bukan pertama kali melihat hal tersebut namun momentum lebaran membuat apa yang dilihat terasa berbeda. Didepan mata tampak bangunan megah dan indah seluas 60 m2. Tempat ibadah  yang dindingnya berlapis keramik dan hiasan ornamen gipsum bernama mushola Al Jama’ah tampak sangat kotor. Lantai bertabur debu dan pasir serta langit-langit yang rimbun dengan mozaik sarang laba-laba. Padahal saya tahu ditempat lain dimana mayat insan dikebumikan, manusia berduyun-duyun datang untuk “ziarah” dan bersihkan pemakaman.

Masya Allah. Rumah Allah yang mulia dan wajib dimuliakan ditelantarkan begitu saja. Bangunan yang didirikan untuk dimakmurkan dengan sholat, dzikir dan membaca Al Qur’an justru  tak terawat. Sebab tiada manusia yang bersihkan meski hanya setahun sekali. Sementara kuburan, tempat yang Allah larang untuk dijadikan ied (tempat yang dikunjungi secara rutin) telihat rapih dan bersih karena tak sedikit orang yang bersihkan. Sebuah ironi yang amat layak dijadikan bahan intropeksi bagi segenap insan yang dihatinya masih terdapat iman. Apakah sudah sedemikian rusaknya zaman sehingga masjid dihinakan namun kuburan jadi mulia?

Jalan Revolusi, Arjawinangun, Cirebon 3 September 2011.

Diselesaikan Rahmat Ariza Putra saat berada disamping yang tercinta


Comments

amang ikak said…
Bismillah...

Pendek, namun sarat akan hikmah