Back in late November 2025, setelah mempertimbangkan risk and benefit serta saran istri, saya mengajukan resign kepada manajer operasi di Kebun Pisang Cavendish Way Kanan
"Sesuai nasihat bapak supaya tidak mundur sebelum kontrak habis, saya mohon ijin tidak melanjutkan proses administratif dan evaluatif akhir untuk jadi katep di Desember nanti" jelas saya.
Sejak itu sampai exit interview di 2 Januari 2026 jam 10 pagi, tujuan saya selanjutnya dalah Kalimantan. "Belum ada gambaran kerja di institusi lain mba. Saya mau pulang ke kampung mertua, ngurus kebun," ulas saya kepada HRD.
Sebelum wawancara, persiapan pulang ke Jogja, pamit kepada orang tua dan keluarga, lalu terbang ke Pontianak memang sudah matang. Seluruh tiket kereta, bis, pesawat dan hotel di perjalanan telah terpesan.
That was the only future I dreamed about until unexpected message came across right before lunch on the same day. "Selamat siang pak rahmat, apa kabarnya?" begitu isi whatsapp yang masuk.
"Ini siapa ya, maaf nomornya tidak tersimpan," balas saya. "Iya pak tidak apa-apa pak, saya ***** dari Yayasan Bahtera Dwipa Abadi, apa bapak masih ingat?" jawabnya.
Seketika, saya ingat seleksi yang pernah diikuti untuk posisi koordinator program pertanian di sebuah pulau di Selat Malaka. Hanya saja, pada akhir Agustus, sebuah surel masuk menyampaikan saya tidak lolos tahap ketiga.
Walau pada email itu dijelaskan bahwa profil kandidat telah dimasukkan dalam talent pool, saya tidak lagi berharap. Usai membacanya, saya hapus semua kontak dan rekam korespondensi dengan lembaga tersebut.
Kembali ke whatsapp di atas. Di akhir basa-basi, beliau bertanya. "Apakah bapak masih berminat bergabung dan kalau boleh tahu berapa benefit yang diminta?"
Sebelum merespon pertanyaan itu, saya minta waktu 24 jam untuk berunding dengan istri, orang tua dan mertua. Setelah diskusi panjang, di tanggal 3 Januari, saya sampaikan kesediaan dan nominal yang diminta.
Pada 6 Januari, tepat di hari terakhir menjabat Farm Mentor, saya melakoni wawancara pamungkas dengan top manajemen. An hour long interview which felt much more like a joyful discussion rather than a rigid and strict interview.
On the date while having a trip inside Raja Basa Train from Blambangan Umpu to Tanjung Karang, I received a formal offering letter, the invitation that changed the course of my life.
Everything has flipped over in just 4 days. Perjalanan itu tidak lagi berujung di Kecamatan Sokan, Melawi, Kalimantan Barat sebagaimana rencana dan persiapan apik yang telah saya buat, tapi Pulau Sambu, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
I will be here at least for another year, working for the job that, I and friends of mine thought, fits on me well. Serving those who serve the nation alias ngancani petani di kawasan ekosistem kelapa di sepanjang Selat Malaka.

Comments